5 Fakta tentang Perayaan Hari Nyepi di Indonesia

March 10, 2020

Membicarakan tentang penyebaran agama di Indonesia, mungkin akan memakan waktu yang cukup lama untuk membedah teorinya satu persatu – misalnya saja seputar penyebaran agama Hindu. Menurut profesor dan ilmuwan Frederik David Kan Bosch, agama Hindu mulai masuk ke Indonesia setelah kedatangan para bangsawan asal India. Sementara itu, N.J. Krom dan Von Van Faber berpendapat bahwa agama Hindu masuk ke tanah air pasca kedatangan para pedagang, pelaut, serta nelayan. Ribuan tahun berselang setelah agama ini disebarkan ke Indonesia, agama Hindu pun menjadi agama terbesar ke-4 di Indonesia dengan 4 juta penganut.
Di Indonesia sendiri, terdapat enam pulau yang memiliki jumlah penduduk beragama Hindu terbesar – Bali, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Lombok. Namun, di antara keenam wilayah ini, Bali masih dikenal sebagai rumah terbesar dari penduduk beragama Hindu di Indonesia – 83% dari populasi warganya. Oleh karena itu, bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari tradisi serta ritual dalam perayaan Nyepi, Bali merupakan destinasi terbaik untuk Anda kunjungi. Terutama jelang perayaan besar yang akan berlangsung kurang dari dua minggu lagi!
Hari Nyepi itu sendiri merupakan hari raya dari umat beragama Hindu yang digelar setiap tahunnya, sebagai bagian dari awal dimulainya Tahun Baru Saka. Yang istimewa dari Hari Raya Nyepi adalah rangkaian ritual yang harus dilakukan oleh umat Hindu, demi tercapainya kesempurnaan dalam hari besar ini. Apa saja sih hal istimewa dan unik lainnya mengenai Hari Raya Nyepi? Berikut fakta-faktanya!

1. Bali akan ditutup untuk satu hari!

bali-akan-ditutup-selema-nyepi

Photo by Jeremy Bishop on Unsplash

Bagi para wisatawan yang mungkin berencana untuk memanfaatkan libur Hari Raya Nyepi untuk berkunjung ke Bali, sebaiknya Anda mengatur ulang jadwal keberangkatan Anda. Karena setiap tahunnya, bandara, pelabuhan, bahkan terminal bus akan ditutup selama satu hari pada puncak perayaan Nyepi. Tahun lalu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menunda lebih dari 207 penerbangan internasional dan 261 penerbangan domestik dari dan menuju Bali. Salah satu juru bicara dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai mengungkapkan bahwa prosedur standar ini selalu dilakukan untuk memastikan agar perayaan Nyepi di Bali berlangsung dengan khidmat.

2. Hukuman menanti siapapun yang tidak mematuhi aturan-aturan berlaku saat Hari Nyepi

hukuman-ke-semua-saat-nyepi

Photo by Artem Beliaikin on Unsplash

Silvita Agmasari, kontributor dari travel.kompas.com, mengungkapkan bahwa ada empat aturan utama yang wajib dipatuhi selama Nyepi berlangsung. Peraturan ini antara lain adalah Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Jadi, merupakan hal yang wajar jika Bali berada dalam situasi sunyi dan senyap saat puncak Hari Raya Nyepi. Peraturan-peraturan di atas tidak hanya berlaku untuk warga Bali yang beragama Hindu saja loh, warga-warga beragama lain pun ikut berpartisipasi dalam menjaga ketenangan selamam Nyepi. Hal ini dilakukan guna menjaga kerukunan serta solidaritas antar umat beragama. Jadi, jangan lupa untuk saling menghormati!

3. Ada 6(enam) rangkaian ritual yang harus dilaksanakan

6-ritual-saat-nyepi

Photo by Ruben Hutabarat on Unsplash

Dilansir dari wikipedia.com, ada enam rangkaian ritual yang harus dilaksanakan selama Hari Raya Nyepi berlangsung. Pertama adalah ritual Melasti yang dilakukan sekitar 3 atau 4 hari jelang puncak Nyepi. Melasti merupakan ritual yang dilakukan untuk membersihkan sarana persembahyangan di Pura menggunakan air laut. Berikutnya adalah ritual Bhuta Yajna, yang dilakukan untuk membuang energi negatif serta mengembalikan keseimbangan di alam semesta. Selanjutnya, merupakan puncak perayaan Hari Raya Nyepi yang dilakukan oleh umat Hindu dengan menaati empat peraturan antara lain Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Prosesi Nyepi kemudian diikuti dengan ritual Brata, di mana orang-orang melakukan meditasi mulai pukul 6 pagi hingga waktu yang sama di keesokan harinya. Setelah ritual ini berhasil dilalui, Ngembak Agni dan Dharma Shanti akan dilakukan sebagai simbol dari pemberian maaf kepada sesama.

4. Ragam hidangan khas yang tidak boleh dilewatkan saat Hari Raya Nyepi

hidangan-wajib-saat-nyepi

Photo by Artem Beliaikin on Unsplash

Berbicara mengenai Hari Raya di Indonesia, makanan-makanan tradisional memiliki peranan penting dalam setiap perayaannya. Mungkin, salah satu alasan di balik munculnya fenomena ini adalah keberagaman hidangan khas Indonesia yang tak hanya dikenal dengan kelezatannya, tapi juga dapat membuat penikmatnya selalu merasa seperti di rumah. Dalam perayaan Hari Nyepi, ada lima hidangan yang mungkin akan Anda temui setiap berkunjung ke rumah tetangga atau sanak saudara. Pertama, ada Entil yang merupakan makanan serupa Ketupat. Selanjutnya, ada Ketongkol yang juga hampir serupa dengan Entil, namun hidangan yang satu ini biasa disajikan bersama lauk seperti Lawar dan telur rebus. Untuk hidangan penutup yang manis di mulut, Anda bisa menikmati Pulung Nyepi dan Cerorot. Terakhir, bagi Anda yang ingin mengisi perut dengan makanan yang mengenyangkan, Nasi Tepeng yang disajikan dengans sayur-mayur bisa menjadi pilihan Anda.

5. Makna di balik pakaian tradisional yang dikenakan saat Hari Raya Nyepi

makna-baju-adat-saat-nyepi

Photo by Artem Beliaikin from Pexels

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, ada dua ritual yang harus dilaksanakan jelang puncak Hari Raya Nyepi – Melasti dan Bhuta Yajna. Mengingat dua ritual ini biasanya diadakan di Pura, maka penting bagi masyarakat yang hadir untuk mengenakan pakaian tradisional dalam upacara penting ini. Menurut Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran, pakaian tradisional Bali yang terbagi menjadi tiga bagian, masing-masing memiliki makna yang berbeda di baliknya – mulai dari Tri Angga (aksesori dari bagian leher hingga kepala), Manusa Angga (pakaian yang dikenakan mulai dari bagian pusar hingga leher), dan Butha Angga (pakaian yang dkenakan mulai dari bagian pusar hingga mata kaki).Tentu ada beragam filosofi yang terkandung di dalam setiap potongan pakaiannya, contohnya saja Udeng, pengikat kepala yang biasanya dikenakan oleh laki-laki. Udeng memiliki beberapa macam simpul yang bermakna penghormatan terhadap Sang Penciota hingga dorongan untuk selalu melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan.